Bukan soal biasa-biasa saja

Posted: September 4, 2012 in Fiksi Me-ni

“Just an ordinary girl”

Itu adalah kata-kata yang selalu kutulis di semua bio-ku di berbagai akun media sosial yang kumiliki. Kalimat yang akan kukatakan kepada orang-orang yang menanyakan soal aku. Jawaban yang akan aku berikan setiap wawancara pekerjaan yang kujalani jika HRD di tempatku melamar, ingin tau bagaimana pendapatku tentang aku.

Yups, aku memang se-minder itu. Yups, aku memang se-tidak sepede itu. Yups, aku memang paling bingung jika orang bertanya apa yang paling kubanggakan dari diriku sendiri. Karena aku hanyalah si cewek yang biasa-biasa saja.

Di antara saudara-saudaraku, akulah si anak tengah yang tidak menonjol. Aku tidak sehebat kakakku yang jago melukis atau sepintar adikku yang selalu juara umum di sekolah. Kemampuan seni-ku biasa saja, begitu juga dengan nilai-nilaiku. Biasa, cukup untuk syarat naik kelas tiap tahun. Untuk kegiatan ekstrakulikuler, aku juga bukan si aktif. Mungkin karena hal inilah aku tidak temasuk kalangan populer di sekolah. Tapi untungnya aku juga bukan jenis orang-orang yang di-bully.

Dan selama ini, aku sudah terlalu terbiasa dengan keterbiasaanku.

˜♠˜

Ya Tuhan, dia menyapaku!

Aku tahu tentang dia. Namanya Aditya Putra. Anak baru di kantor tetangga, 1 lantai di atas kantorku. Kami sering berpapasan di lift saat akan menuju ke kantin untuk makan siang. Tiap kali kami berpapasan, tanpa sadar aku akan memperhatikannya. Karena dia selalu dikelilingi oleh banyak orang. Karena dia selalu ceria. Karena dia populer. Karena dia bukan orang yang biasa2 saja. Karena dia tidak seperti aku.

Dan hari ini dia menyapaku. Bukan sekedar sapaan ‘hai’ saja yang penuh basa-basi. Tapi sapaan ‘hai, Rin’.

Dia bilang ‘hai, Rin’. Dia menyapaku dan dia tau namaku.

Mungkin ini bukan hal yang aneh. Mungkin dia mendengar namaku dari teman-temanku yang kebetulan sedang mengobrol denganku. Mungkin dia tau namaku dari name tag pegawai yang kukenakan.

Dan karena kami sudah sering bertemu, mungkin dia hanya merasa harus menyapaku.

˜♠˜

Ya Tuhan, kami makan siang bersama hari ini!

Tadi  dia menyapaku lagi. Sama seperti kemarin. Untungnya kali ini aku tidak hanya memandangnya dengan terbengong-bengong. Untungnya hari ini aku sempat membalas sapaannya.

Tak lama kemudian, dia memisahkan diri dengan rombongannya dan ikut mengantri di pantry makanan Sunda di belakangku. Dia yang membuka percakapan telebih dahulu dengan mengulurkan tangannya ke arahku untuk kujabat. ‘Namaku Adit. Aku pegawai baru di kantor Persada, 1 lantai dari kantormu. Dan kalo kamu kebetulan sedang mampir ke lantai atas, ruanganku ada di pojok menghadap matahari terbenam.’

Dan penyakitku kambuh lagi. Aku hanya terdiam menanggapi uluran tangannya maupun perkenalannya yang panjang. Membuatnya menarik tangannya sambil tertawa kikuk. ‘Yah, kupikir kau perlu tau tentang itu’ katanya.

Dia hanya tidak tau kalo aku sudah tau.

1 jam waktu makan siang, kami habiskan dengan obrolan ringan penuh tawa dari pihaknya dan kecanggungan dari pihakku.

˜♠˜

Ya Tuhan, mengobrol dengannya tidak pernah membosankan!

Makan siang bersama sekarang sudah menjadi agenda rutin kami tiap hari. Dia jadi muncul di pantry tempatku mengantri makanan. Dia bahkan tidak segan bergabung dengan teman-temanku dan mengobrol seakan mereka adalah teman lama.

Seminggu kami makan siang bersama dan aku sudah tau kalau dia adalah anak tertua dari 2 bersaudara. Adiknya sedang kuliah di Swiss mengambil jurusan musik. Dia pencinta ramen pedas tapi tidak suka sushi dan makanan mentah lainnya. Pengoleksi tiket masuk bioskop. Dan berbagai detail lainnya.

˜♠˜

Ya Tuhan, dia bilang suka!

Siapa aku sampai dia menyukaiku? Apa ini salah satu olok-oloknya? Apa ini semacam adegan di film di mana si tokoh populer bertaruh untuk mendapatkan tokoh tidak populer?

Bukannya aku tidak senang. Bukannya aku tidak pernah berharap. Aku sempat senang dan aku sempat berharap. Tapi semua kesempatan itu tidak pernah kuanggap serius.

Jadi lagi-lagi aku hanya terdiam menanggapi kalimat ‘Aku suka kamu’-nya.

˜♠˜

‘Kalo ada yang suka sama kita, berarti kita menarik dan bukannya biasa aja kan?’ – ocehan seorang teman baik

Itu kata-kata yang kuterima ketika aku menceritakan soal Adit padanya. Soal Adit yang menyapaku. Soal Adit dan obrolan makan siang kami. Soal Adit yang bilang suka padaku. Soal Adit yang tidak pernah menuntutku merespon pernyataan sukanya. Soal Adit yang populer dan bilang suka padaku, si biasa-biasa saja.

Mulai besok, aku akan makan siang dengan Adit seperti biasa dan menanyakan apa yang menarik dari diriku sebelum memberikan respon untuk pernyataan sukanya.

Karena menurutku temanku benar. So does Selena Gomez!

Who says you’re not star potential?
Who says you’re not presidential?
Who says you can’t be in movies?
Listen to me, listen to me
Who says you don’t pass the test?
Who says you can’t be the best?
Who said, who said?

(Who Says-Selena Gomez)

Inspired by anofchan *muach*

Comments
  1. anofchan says:

    Bayar royalti! :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s