Harusnya itu aku

Posted: August 7, 2012 in Fiksi Me-ni

Harusnya akulah cintamu
Yang kan slalu menjagamu disetiap malamku
Harusnya akulah cahayamu
Yang kan slalu sinarimu hingga akhir waktu

(Prisa)

-♣-

Ryan membaca lagi, memandangi lagi, membolak-balik lagi kertas beraroma enak di tangannya. Kemarin pagi ia memeriksa kotak suratnya dan menemukan surat itu tergeletak di sana bersama tumpukan koran pagi langganannya serta beberapa tagihan bulanan. Dan sejak itu yang dia lakukan hanyalah terduduk di sofanya dan mengecek surat itu berulang-ulang.

‘Pasti ada yang salah’, gumamnya. Masih tidak percaya.

Nama yg tercetak di situ adalah nama Kanya. ‘Kanya Anggraini’. Nama yang dikenalnya. Tapi nama yang satunya, asing. Yang jelas itu bukan namanya. Bukankah seharusnya namanya yang tercetak di situ? Bersandingan dengan nama Kanya? Kenapa malah ‘Artha Dwikaputra’? Siapa dia?

-♣-

Pertemuan pertama…

Ryan melihat dia untuk pertama kali saat ada pelatihan kerja di kantor pusat. Matanya, senyumnya, gaya bicaranya, semuanya Ryan suka. Karena itulah ia bertanya-tanya kepada teman-temannya di kantor pusat tentang gadis berkerudung pink yang jadi salah satu pembicara. Gadis yang menarik perhatiannya.

-♣-

Percakapan pertama…

Butuh keberanian luar biasa bagi Ryan untuk bisa memencet tombol send di ponselnya. Kalimat ‘Maaf Bu, saya Ryan Wijaya dari kantor cabang. Saya pikir ada masalah di kantor kami berkaitan dengan bla… bla…’ dirasanya lebih baik untuk pendekatan awal daripada kalimat lugas semacam ‘Saya Ryan dan saya pikir saya jatuh cinta pada anda’.

Balasan yang ditunggunya muncul sejam kemudian dan selama itulah dia uring-uringan. Jawabannya panjang, namun semuanya bersifat profesional. Jawaban atas pertanyaannya. Soal pekerjaan. Tidak ada tawaran minum kopi bersama atau janji nonton film terbaru.

-♣-

Kencan pertama…

Ryan memandangi sosok di yang sedang duduk di sampingnya. Dengan takjub ia memandangi wanita itu. Memandangi caranya menggigit potongan besar burger sampai sekitar mulutnya belepotan mayonaise. Subhanallah, cantik. Dan Ryan merasa sangat beruntung saat ini.

Mereka duduk di bangku taman belakang kantor bersama sekitar selusin pegawai yang sedang beristirahat sejenak dari penatnya pekerjaan. Ryan yang menelponnya untuk janji temu makan siang. Yeah, lagi-lagi ia menggunakan alasan ‘masalah di kantor cabang’ supaya Kanya menyetujui pertemuan yang sudah dirancangnya ini. Dia merancang makan siang romantis di salah satu kafe langganannya. Satu meja di sudut ruangan sudah ia reservasi sejak seminggu yang lalu.

Tapi kenyataannya, setengah jam yang lalu Ryan baru saja membatalkan pesanan mejanya dan malah duduk di bangku taman. Lupakan soal prosciutto. Menu makan siangnya justru lebih istimewa dari yang direncanakan. Makanan siap saji dari kantin kantor pusat.

Kanya mungkin menganggapnya sebagai pertemuan biasa dengan partner kerjanya, tapi Ryan menganggapnya sebagai kencan pertama.

-♣-

Pertama kali bilang sayang…

Sudah hampir setahun Ryan kenal Kanya. Dan selama itu pula dia merasa bahagia. Tidak pernah ada kata sayang terucap. Mereka hanya berteman dekat. Seperti itulah cara Kanya mengenalkan Ryan pada teman-temannya. Sebenarnya dia agak keberatan dengan sebutan itu karena Ryan tahu, dia sayang Kanya lebih dari sekedar teman.

Sampai Kanya bilang agar Ryan tidak menemuinya lagi. Karena mulai bermunculan gosip yang tidak-tidak tentang mereka. Dan Ryan terdiam cukup lama mendengar penolakan itu. Satu-satunya kalimat yang berhasil ia ucapkan hanyalah ‘Aku sayang kamu’

Tapi Kanya hanya memandangnya dan kemudian pergi. Meninggalkan Ryan dengan pernyataannya.

-♣-

Pertama kali patah/mematahkan hati…

Jawaban yang ditunggunya muncul dalam bentuk attachment email pada malam harinya. Panjang dan lugas seperti biasa. Tanpa ada kata yang disingkat. Gaya bahasa favorit Kanya. Dan Ryan sudah hapal semua itu. Dia sudah hapal semua tentang Kanya. Kanya suka hujan, sate, warna sinar matahari pagi. Ryan bahkan ingat bau parfum yang sering dipakai Kanya.

Email itu panjang dan lugas. Tapi hanya beberapa baris kalimat yang membuat Ryan harus memikirkan ulang semuanya.

‘Saat ini saya tidak lagi menginginkan orang yang hanya menyayangi saya. Karena wanita seusia saya tidak lagi membutuhkan kata-kata manis semacam itu. Ryan, kamu pria yang baik. Saya masih berharap kamu bisa memberikan apa yang saya butuhkan. Tapi tetap tanpa paksaan.’

Hal baiknya ada di kalimat, ‘Saya masih berharap kamu bisa memberikan apa yang saya butuhkan.’ Yey, artinya setidaknya bukan hanya Ryan yang merasakan apa yang dirasakannya sekarang. Kanya juga sayang padanya.

Hal buruknya ada di kalimat, ‘Saya masih berharap kamu bisa memberikan apa yang saya butuhkan.’ Dan itu artinya sebuah komitmen. Sebuah pernikahan.

Dan apa yang bisa dijanjikan oleh seorang pria usia 22 tahun yang masih kuliah dan kerja sambilan sebagai pegawai magang kepada seorang wanita usia 30 tahun yang cantik, cerdas dan manajer di kantor tempatnya bekerja? Jelas pernikahan bukan salah satunya.

Ryan meng-klik tombol reply, ‘Bisakah kamu menunggu?’

Dan tidak pernah ada jawaban.

-♣-

Jawaban itu baru muncul dua tahun kemudian. Dalam bentuk surat undangan pernikahan.

Kenapa justru sekarang? Di saat dia sudah punya segalanya untuk menjanjikan apapun termasuk penikahan? Di saat statusnya bukan lagi pegawai magang? Di saat ia bukan lagi anak kuliahan?

Ya, ia punya segalanya sekarang. Segalanya kecuali Kanya.

Ryan memejamkan matanya sambil merasakan pelan-pelan obat penenang yang diminumnya bereaksi. Ia lupa dokter bilang apa tentang dosis obat penenang yang aman. Ia bahkan tidak tahu berapa butir obat yang baru saja ditelannya. Ia hanya butuh istirahat. Tidur.

Inspired by si kamuh and his paranoia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s