Diskusi Cerdas: Hemat vs Rokok

Posted: March 16, 2012 in Serius
Tags:

Sekali-sekali gw mau ngomongin masalah serius ah, biar keliatan cerdas gitu. Hehe, semacam pencitraan. Kali aja ada pelajar2 unyu yg dapet tugas dr gurunya atau sekolompok mahasiswa yg lagi nyusun skripsi atau para profesor yg lagi nyari bahan penelitian atau kaum intelek lainnya, yg nyasar ke blog gw dan tertarik untuk menjadikan cuap2 ditulisan gw kali ini menjadi sumber tugas, skripsi, atau penelitian mereka *ngayal-ngayal siang bolong*

Jadi, sebenernya skg niy gw lagi break abis meriksa dokumen hasil kerjaan temen2 lapangan. Padahal kerjaan rutin tiap 3 bulanan, tp teuteup ajah butek tiap buka niy dokumen. Hih! Tapi berkat tumpukan dokumen inilah gw dapet inspirasi buat nulis postingan ini.

‘Tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga  dapat diukur melalui besarnya konsumsi/pengeluaran yang dikeluarkan oleh rumah tangga yang bersangkutan. Semakin besar konsumsi/pengeluaran rumah tangga, terutama porsi pengeluaran untuk bukan makanan, maka tingkat kesejahteraan rumah tangga yang bersangkutan semakin baik – Inkesra’

Dari kutipan keren di atas, dapat disimpulkan bahwa indikator kesejahteraan masyarakat yg utama adalah konsumsi rumah tangga. Masyarakat yg sejahtera cenderung memiliki konsumsi bukan makanan yg lebih besar dr konsumsi makanan.

Karena gw numpang cari duit di Indragiri Hulu, makanya kabupaten ini gw jadiin sampel lah ya. Ga tau deh valid apa enggak buat menggambarkan keadaan di negara kita. Yah, kalau ga bisa, lumayanlah buat menggambarkan keadaan kabupaten ini.

Yg jelas, untuk kabupaten ini, konsumsi makanannya masih lebih besar dibanding konsumsi bukan makanannya. Di mana persentase pengeluaran rata-rata perkapita sebulan untuk makanan meliputi 56,73 persen dan pengeluaran konsumsi bukan makanan sebesar 43,27 persen. Kalo mengacu ke tulisan miring dan keren di atas, dapat disimpulkan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk secara umum masih rendah.

Ironisnya, persentase pengeluaran rata-rata perkapita sebulan untuk makanan yg besar itu mayoritas disumbang oleh komoditas tembakau dan sirih. Termasuk di dalamnya rokok. Bahkan ada niy, satu rumah tangga sampel yg isinya 5 orang memiliki konsumsi beras Rp 70.000,00 per minggu sementara konsumsi rokoknya Rp 77.000,00 per minggu. Padahal anggota rumah tangga yang merokok di rumah itu cuman 1 orang yaitu si bapak sendiri. Seandainya si bapak tidak merokok, dia bisa menghemat Rp 77.000,00 seminggu, Rp 308.000,00 sebulan, 3.696.000,00 setahun. Rumah tangga tersebut akan lebih kaya 3 jutaan rupiah setahun jika si bapak tidak merokok.

sarkasme rokok

Itu baru 1 rumah tangga yg dijadikan sampel. Bayangkan jika semua perokok di Kabupaten Indragiri Hulu berhenti merokok, berapa banyak rupiah yg bisa dihemat dan dialihkan ke jenis konsumsi lain yg lebih urgent. Bukannya tidak mungkin nantinya, jika ‘bayangan’ gw barusan jadi kenyataan, Kabupaten Indragiri Hulu jadi kabupaten paling sejahtera di Indonesia.

Sekian ajah diskusi cerdasnya. Mikir serius lama2 itu bikin capek. Yg jelas, itu tadi uneg2 gw di kala break. Maap2 kalo agak nyeleneh. Maap2 kalo ada yg kesindir. Tapi gw serius loh soal ‘bayangan’ itu. Kok kayanya indah ya kalo diwujudkan. Hmmm…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s