Saya Kecewa!

Posted: March 12, 2012 in Cuma Curhat
Tags:

Confucius said, ‘Choose a job you love and you will never have to work a day of your life’. The thing is i do love my job. I’m just not satisfied with the institution’s policy

Ini cerita paling fresh dari perjalanan hidup gw. Tentang bagaimana gw, untuk kesekian kalinya, dikecewakan dengan kebijakan yg diterapkan oleh institusi kami. Kali ini gw berharap ada pejabat penting dr institusi kami yg membaca tulisan ini. Biar mereka2 itu sadar, kalo ada seseorang di institusi yg kecewa.

Seperti yg gw bilang di postingan sebelumnya, gw mencoba peruntungan gw dengan mengajukan beasiswa ke Belanda. Deadline pengajuan itu adalah tanggal 15 Maret 2012. Dan pada tanggal 9 Maret 2012, gw udah tau kalo gw GAGAL. Bahkan sebelum proses seleksi administrasinya dimulai. Hebat banget kan!

Kecewa. Kecewa. Kecewa. Kecewa. Kecewa. Kecewa. Kecewa. Kecewa. Kecewa. Kecewa. Kecewa.

Kok bisa siy?

Memang aneh banget, tapi itulah yg terjadi. Padahal gw dan temen2 yg sama2 mengajukan beasiswa itu sudah melengkapi semua dokumen yg disyaratkan oleh kantor pendidikan dan pelatihan di institusi kami (selanjutnya kita sebut saja IPP). Kami pikir semua dokumen kami itu sudah lengkap dan layak untuk ikut serta dalam proses seleksi. Jadi kami tinggal menunggu kabar tentang lolos atau tidaknya kami di tahap seleksi awal yang nantinya akan diberitahukan via email.

Tapi pada tanggal 9 itu, mendadak ada nomer asing yg masuk ke ponsel gw dan mengaku sebagai perwakilan dari universitas yg gw tuju. Si dia ini dengan menyesal harus mengabarkan kalau dia tidak bisa melanjutkan dokumen gw ke badan pemberi beasiswa-nya gara2 ada dokumen yg belum kami lengkapi. Dokumen yg dimaksud adalah admission letter, semacam surat rekomendasi dari universitas gitu. Dan proses ngurus surat itu memakan waktu 4-6 minggu. Kami baru dikasih tau hari itu. Jadi ga mungkin banget kami bisa mendapatkan admission letter-nya sebelum tanggal 15 tanpa mesin waktu. Si dia ini, sama seperti gw, juga mempertanyakan kredibilitas IPP yg sebelumnya tidak pernah menghubungi kantor perwakilan universitas atau badan pemberi beasiswa untuk menanyakan tentang proses seleksi calon penerima beasiswa ini lebih lanjut.

Yah, berikut beberapa pertanyaan yg muter2 di otak gw dr tanggal 9 Maret 2012 sampai gw ngetik ini sekarang:

  1. Bukankah tiap tahun IPP mengadakan program beasiswa ini? Bukankah seharusnya kesalahan seperti ini tidak terjadi karena seharusnya mereka sudah berpengalaman dan profesional di bidangnya? Kalau seandainya ini kekhilafan dr pihak mereka, mana permintaan maaf mereka untuk kegagalan kami? Kenapa mereka bersikap seolah tidak ada apa2? Karena sungguh, di surat persyaratan yg ditulis oleh IPP, tidak tercantum tentang admission letter sama sekali. Selain itu, di surat IPP juga tertulis kalau hasil tes toefl juga bisa menyusul nanti. Sementara si dia dari perwakilan universitas bilang kalau kami harus melengkapi semua dokumen, termasuk hasil tes toefl dan admission letter, sebelum tanggal 15 Maret 2012.
  2. Jika memang kami diharuskan untuk melengkapi admission letter, yg untuk mengurusnya sendiri membutuhkan waktu sekitar 4-6 minggu, lalu kenapa surat dari IPP yg tertanggal 17 Februari itu baru tersebar ke kantor Provinsi dan Kabupaten/Kota di Indonesia tanggal 20 Februari. Bahkan kami pun tak kan sempat mengurus admission letter-nya jika memang kami tahu sejak awal ttg perlunya surat itu.
  3. Gw sendiri baru tahu ttg informasi beasiswa ini tanggal 21 Februari berkat imel yg gw terima dari seorang teman. Karena kebijakan kantor Provinsi gw, yg entah kenapa, tidak pernah menyebarkan informasi tentang beasiswa atau promosi pegawai ke kantor Kabupaten/Kota. Hal ini membuat gw suudzon sama institusi sendiri, kenapa institusi justru membatasi karyawannya untuk berkembang? Sampai hari ini, imel ttg beasiswa ini belum tersebar ke Kabupaten/Kota. Dan sepertinya memang ga akan pernah dateng.

Di sini gw mempertanyakan niat baik dari para pejabat pembuat kebijakan. Kenapa kami dipersulit justru disaat kami punya keinginan untuk jadi lebih baik. Toh pada akhirnya kebaikan ini akan kami gunakan untuk mengabdi kepada instansi juga kan?

Gw ga nyesel dengan keputusan gw untuk mengajukan beasiswa ini. Gw juga udah puas karena udah berusaha maksimal dalam proses pengajuan beasiswa ini. Kalo mo mikir positif, berarti emang bukan rejeki gw untuk pergi ke Belanda sekarang.

Tapi, sekali lagi, gw kecewa karena harus gagal berkat kekhilafan institusi. Seandainya gw gagal krn pihak pemberi beasiswa menilai gw ga layak mendapatkan beasiswa, mungkin gw ga akan se-kecewa ini.

Berkat mereka, gw jadi punya kesimpulan seperti ini:

“Saya mencintai pekerjaan saya. Tapi saya tidak mencintai sistem dan kebijakan yang dibuat untuk institusi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s