Kebersamaan di bawah rintik hujan

Posted: December 14, 2011 in Cuma Curhat
Tags:

*Sejak hari ini, tanggal 14 Desember 2011, jalan raya rengat-pematang reba akan terlihat berbeda…*

Dari awal, gw dan slh satu rekan kerja, berencana memanfaatkan waktu istirahat kami untuk menengok rekan kerja kami yg lain yg sdh semingguan ga masuk kerja krn sakit. Kami berangkat sekitar pukul setengah 1-an.

Begitu sudah separuh perjalanan, cuaca yg tadinya terang benderang, mendadak jadi sendu. Hujan turun dg derasnya tanpa babibu. Membuat kami kelimpungan mencari tempat berteduh. Maklum, kami berkendara motor dan tdk berbekal mantel hujan krn tdk menghitung probabilita perubahan cuaca ekstrem spt ini (duileh, bhs gw!)

Untungnya, kami menemukan sebuah bangunan kayu setengah jadi yg sepertinya cukup nyaman utk dijadikan tempat berlindung. Kami melipir ke sana, memarkir motor dan berdiri sambil berharap langit cepat berhenti menangis.

Ketika sedang menatap langit itulah, kami mendengar suara seorang ibu memanggil kami. Rupanya seorang penjual buah2an yg kiosnya terletak tak jauh dr tempat kami berdiri. Dengan ramahnya dia mengajak kami untuk duduk di bangku panjang tempat dia duduk. Tawaran yg menggiurkan dibanding hanya berdiri sampai entah kapan.

Kami mendekat dan menerima tawaran keramahannya. Tp ternyata, kebaikannya tidak berhenti sampai di situ. Dia juga menawarkan cemilannya berupa dua potong gorengan labu yg katanya dia buat sendiri.

Sampai sini, gw sudah beneran terharu. Ternyata masih ada orang baik di dunia ini. Ternyata diantara para koruptor, pembunuh, dan makhluk2 egois yg sering masuk berita di tipi maupun yg kita jumpai langsung di dunia nyata, masih ada terselip manusia2 baik hati dan tanpa pamrih seperti si ibu penjaga kios buah2an di pinggir jalan ini.

pengendara sepeda motor yg senasib dg kami

pengendara sepeda motor yg senasib dg kami

Hanya dengan ucapan terimakasih singkat, si ibu sudah tersenyum puas sambil tak lupa mengingatkan kami agar berhati2 membawa motor krn jalanan yg licin.

Dan gw terharu lagi.

Seandainya si ibu memasang tarif bagi siapa saja yg berteduh di kiosnya saat itu, pasti dia sudah mendapatkan uang yg lumayan dari para pengendara sepeda motor yg menepi. Tapi tidak. Dengan senyuman ramahnya, dia justru mengundang kami untuk beristirahat sejenak di kiosnya. Subhanallah.

Semoga Allah membalas senyuman tulusmu wahai ibu.

-Di saat memandangi rintik hujan itu, ada ingatan lain terselip. Ttg seseorg yg pernah menawarkan daun pisang sbg tempat berlindung dr hujan-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s