Winter in Tokyo

Posted: September 23, 2011 in review

Bukan. Gw bukan mo nyeritain pengalaman musim dingin gw di Tokyo (emang blm punya pengalaman kaya gini siy). Judul tulisan di atas sebenernya gw adopsi dari judul novel yg baru selesai gw baca ulang. Salah satu novel dari series kisah 4 musimnya Ilana Tan. Masih ada Summer in Seoul, Autumn in Paris dan Spring in London.

Untuk sekarang, gw coba review yg Winter in Tokyo dulu ya.

Seperti yg udah gw bahas di postingan sebelumnya, buku2nya Ilana Tan ini masuk dlm jajaran novel yg gw koleksi. Awalnya, adek gw yg ngenalin novel lokal ini ke gw pas jaman kuliah dulu. Sempet pesimis juga kalo novel ini bakalan se-oke yg diomongin si adek. Stlh baca bab 1 dg setengah hati, ahirnya gw malah kena karma dan jadi namatin novel ini dalam 1 malam. Huehehe. Kecanduan.

tampak depan novel-nya

Tema yg diusung sama novel ini ringan bgt. Ttg cinta2an gitu. Tp krn gaya bahasa sang pengarang yg bagus, jadinya kesan picisan dan murahan-nya ilang. Belum lagi kalo ditambah sama konflik2 yg dihadapi para tokoh. Pembaca dijamin bakalan hanyut terbawa suasana romantis yg berhasil dibangun si pengarang. Novel ini menggunakan 2 sudut pandang dalam ceritanya. Ada cerita versi cewe dan versi cowo-nya. Jadi pembaca disuguhi pikiran dari para tokohnya.

Di sini yg jadi tokoh utama cowo adalah seorang fotografer muda bernama Nishimura Kazuto yg baru dateng ke Jepang setelah lama tinggal di Amerika. Sementara tokoh utama cewe-nya adalah seorang wanita Jepang keturunan Indonesia, namanya Ishida Keiko. Mereka bertemu, tinggal di gedung apartemen yg sama kemudian jatuh cinta. Tapi karena satu dan lain hal, yg ga bisa gw ceritain di sini, mereka ga bisa langsung mengungkapkan perasaan masing2 begitu mereka sadar sama perasaan mereka. Pembaca mesti sabar nungguin konflik selesai sebelum berjumpa dg ending yg tidak mengecewakan.

Berikut adalah beberapa quote favorit gw dr novel ini:

  1. Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap?
  2. Dia tidak perlu melakukan apa-apa. Yang paling penting adalah kenyataan bahwa dia ada dan saya bisa melihatnya.
  3. Sejak sebelum aku hilang ingatan, aku sudah menyukaimu. Ketika aku tidak mengingat apa-apa, aku kembali jatuh cinta padamu.
  4. Yang harus saya lakukan hanyalah melihatnya. Hanya melihatnya dan saya akan merasa saya bisa menghadapi segalanya.

Ah, meleleh!!!!

Gw bukan tipe orang yg gampang luluh sama cerita2 romantis. Bisa dihitung pake jari deh, berapa kisah dari film, novel atau komik yg bisa bikin gw termehek2 gara2 ke-romantisan-nya. Yah, novel ini (besarta ke-3 series lainnya) dapat rekomendasi dr gw untuk urusan kisah romantis yg memang terdengar romantis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s